Jumaat, 23 September 2011

Penghuni Surga Itu 
Adalah Seorang Ibu 
Itulah Ibu Kita
(Siti Hawa)
Nurul Lyana IIzati
(anakku)
Dari Penulis

Masa usia setahun , ibu suapkan makanan dan memandikan kita. Cara kita ucapkan terima kasih kepadanya hanyalah dengan menangis sepanjang malam. Saat usia 2 tahun, ibu mengajar kita bermain. Kita ucapkan terima kasih dengan lari sambil tertawa terkekeh-kekeh apabila dipanggil. Ketika usia 3 tahun, ibu menyediakan makanan dengan penuh kasih sayang.Kita ucapkan terima kasih dengan menumpahkan makanan.
 
Masuk usia 4-5 tahun, ibu belikan pensil warna dan pakaian. Kita ucapkan terima kasih dengan menconteng dinding dan bergolek atas lantai kotor. Saat usia 6 tahun, ibu memimpin tangan kita ke Tadika.Kita ucapkan terima kasih dengan menjerit," Tak mahu! Tak mahu !". Ketika usia 7 tahun, ibu belikan sebiji bola, kita ucapkan terima kasih dengan memecahkan cermin rumah jiran. Setelah usia 8-9 tahun, ibu menghantar kita ke sekolah, kita ucapkan terima kasih dengan ponteng sekolah. Di usia 10-11 tahun, ibu menghabiskan masa sehari suntuk dengan kita, kita ucapkan terima kasih dengan tidak bertegur sapa dan asyik bermain dengan kawan.

Menjelang usia 13 tahun, ibu suruh pakai pakaian menutup aurat, kita ucapkan terima kasih dengan memberitahu bahawa pakaian itu ketinggalan zaman. Ketika menjangkau 18 tahun, ibu menangis apabila tahu kita di terima masuk universiti , kita ucapkan terima kasih dengan bersuka ria bersama kawan-kawan. Menjelang usia 20 tahun, ibu bertanya apakah kita ada teman istimewa, kita katakan,...." itu bukan urusan
ibu.
 
 Setelah usia 25 tahun, ibu bersusah payah menanggung perbelanjaan perkawinan kita, ibu menangis dan memberitahu bahawa dia sangat sayangkan kita, tanda kita ucapkan terima kasih dengan pindah jauh darinya. Ketika usia 30 tahun, ibu menelefon memberi nasihat mengenai penjagaan bayi, kita dengan megah berkata,... " itu dulu, sekarang zaman moden". Ketika usia meningkat 40 tahun, ibu menelefon mengingatkan tentang kenduri di kampung, kita berkata, "kami sibuk...tak ada masa nak datang". Menjelang usia 50 tahun, ibu jatuh sakit dan meminta kita menjaganya. Kita bercerita tentang kesibukan dan kisah-kisah ibu bapa yang menjadi beban bagi anak-anak. Dan kemudian suatu hari...kita mendapat berita ibu meninggal, khabar itu mengejutkan.... dalam linangan air mata, segala perbuatan terhadap ibu muncul dalam ingatan satu persatu....
 
Saat di taman kanak-kanak, ibu menghantar hingga masuk ke dalam kelas,ibu perlu menunggu di sebelah sana. Aku tak peduli sebanyak manapun pekerjaannya di rumah, aku tak perduli hujan, panas atau rasa bosannya ketika menunggu. Aku senang ibu menungguku sampai lonceng berbunyi. Setelah besar, aku sering meninggalkannya bermain dengan teman-teman dan berseronok.Tak pernah aku menemani ibu ketika sakit, ketika ibu memerlukan pertolongan aku tak pernah ada. Masuk alam remaja, aku sering merasa malu berjalan bersama ibu. Pakaian dan dandannyaku anggap kuno dan tak serasi dengan penampilanku. Bahkan sering kali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu dua meter di depannya agar orang tak menyangka aku ersamanya... malu!..
 
Padahal ibu yang menjagaku sejak kecil, tak pernah memikirkan penampilannya, tak pernah membeli pakaian baru , apalagi perhiasan baru untuknya tapi ibu gunakan untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku kelihatan cantik. Ibu mengangkat tubuhku ketika aku jatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
 
Mulai masuk di Intitut pengajiaan tinggi, aku makin jauh dengannya. Aku pintar dan cerdas sering kali menganggap ibu orang bodoh dan tak mengerti apa-apa. Ibu yang ku anggap bodoh, tak berwawasan , tak mengerti apa-apa, dan bukan orang berpendidikan, doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya tak pernah terhenti sedetikpun untuk anak-anaknya. Semua kenangan itu muncul satu persatu di fikiranku. Dalam linangan air mata yang sudah terlambat, terus mengalir kedukaan dan penyesalan. Dan anda sekarang yang masih mempunyai ibu disamping jangan menjadi seperti aku....seperti ku dulu, memilih untuk memberikan perhatian padanya nanti,tapi sudah terlambat.Benar bahawa kasih Ibu kepada anaknya tak terbatas.....pengorbanan ibu jika dihitung takkan terbalas oleh seorang anak..
 

Sabtu, 17 September 2011

Manusia Harus Banyak 
Belajar Mengenai Sebuah Kehidupan
Jangan Putus Mencari Rahmatnya
Dari Penulis
'Inilah nasihat amat besar kepada manusia 
kalau inilah mendalami sebuah kehidupan'

Suatu hari Nabi Musa As. berpidato di hadapan kaumnya yaitu Bani Israil. Nabi Musa As. menyampaikan nasihat yang melunakkan hati dan membuat air mata bercucuran. Begitulah para Nabi manakala mereka memberi nasihat. Nasihat mereka melunakkan hati yang keras dan melecut jiwa yang malas. Hal itu karena hati dan jiwa mereka dipenuhi dengan rasa takut dan cinta kepada Allah Swt. Mereka diberi kemampuan untuk menjelaskan dan dikaruniai dengan ilmu yang banyak.
Banyak orang ketika mereka mendengar orasi dari para orator ulung sampai terkagum-kagum. Terlebih jika mereka adalah Nabi-Nabi Allah. Setelah Nabi Musa As. menyelesaikan khutbahnya, dia diikuti oleh seorang laki-laki yang meninggalkan tempat perkumpulan. Laki-laki ini bertanya kepada Nabi Musa As., "Apakah di bumi ini terdapat orang yang lebih alim darimu?" Nabi Musa As. menjawab, "Tidak."
Nabi Musa As. adalah salah seorang Rasul yang mulia. Dia termasuk dari lima Rasul yang digelari Ulul Azmi. Nabi Musa As. menempati urutan ketiga diantara para Nabi dan Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi. Nabi Ibrahim As. berada di urutan kedua dan Nabi Muhammad Saw. di urutan pertama. Nabi Musa As. adalah Kalimullah (Nabi yang berbincang dengan Allah). Allah Swt. memberinya kitab Taurat yang berisikan cahaya dan petunjuk. Allah Swt. mengajarkannya banyak ilmu. Akan tetapi, seberapapun tingginya ilmu seorang hamba, dia haruslah tetap bertawadhu kepada Tuhannya. Jika dia ditanya dengan pertanyaan seperti itu, semestinya dia menjawab, "Wallahu a'lam." Seberapa pun ilmu yang dimiliki oleh seseorang tetaplah tidak ada bandingannya dibandingkan dengan ilmunya Allah Swt.
Allah Swt. mencela Nabi Musa As. yang tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Swt. mewahyukan kepadanya, "Ada, ada yang lebih alim darimu. Aku mempunyai seorang hamba di tempat bertemunya dua laut. Dia memiliki ilmu yang tidak kamu miliki." Manakala Nabi Musa As. menyimak hal itu, dia pun bertekad ingin menemui hamba shalih tersebut untuk menimba ilmu darinya. Nabi Musa memohon kepada Allah Swt. agar menunjukkan tempat keberadaannya. Allah Swt. memberitahu bahwa dia berada di tempat bertemunya dua laut. Allah Swt. memerintahkan Nabi Musa As. supaya membawa serta ikan yang telah mati. Musa akan menemukan hamba shalih itu di tempat di mana Allah Swt. menghidupkan ikan itu. Nabi Musa As. berjalan dengan seorang pemuda temannya menuju tempat bertemunya dua laut.
Dia meminta kepada si pemuda agar memberitahu jika ikan itu hidup. Keduanya sampai di sebuah batu di pantai. Nabi Musa As. berbaring di balik batu untuk beristirahat karena perjalanan panjang yang membuatnya letih. Di tempat itulah ikan itu bergerak- gerak di dalam keranjang. Dengan kodrat Allah Swt. ia hidup, melompat ke laut, membuat jalan yang terlihat jelas. Maka airnya berbentuk seperti pusaran, dan Allah Swt. menahan laju air dari ikan tersebut.
Si pemuda melihat ikan yang hidup itu, tetapi dia tidak menyampaikannya kepada Nabi Musa As. karena dia sedang tidur. Setelah terbangun, dia lupa menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Pemuda itu belum teringat kecuali setelah keduanya pergi dari tempat itu. Pada hari itu dan pada malam itu keduanya terus berjalan.
Pada hari berikutnya, ketika waktu makan siang telah tiba, Nabi Musa As. meminta pemuda itu untuk menghidangkan makan siang mereka berdua. Makanan mengingatkan pemuda itu kepada ikan, maka dia pun menyampaikan perkara ikan tersebut kepada Nabi Musa As. Ikan itu telah lompat pada saat keduanya beristirahat di batu kemarin. Perjalanan keduanya cukup mudah. Keduanya melewati tempat yang ditentukan, hingga kelelahan. Nabi Musa As. dan temannya berjalan berbalik menyusuri jejak semula yang telah mereka lalui, demi menuju ke batu tempat mereka beristirahat. Laki-laki yang dicari oleh Nabi Musa As. berada di sana di tempat di mana ikan itu lepas. Sampailah keduanya di batu itu. Keduanya mendapati seorang hamba shalih sedang berbaring di atas tanah yang hijau tertutup oleh kain, ujungnya di bawah kakinya dan ujung lainnya di bawah kepalanya.
Nabi Musa As. langsung memberi salam, "Assalamu'alaikum." Sepertinya daerah itu adalah daerah kafir. Oleh karenanya, hamba shalih tersebut merasa sangat aneh mendengar salam di daerah itu. Dia menjawab, "Dari mana salam di bumiku." Kemudian hamba shalih itu bertanya siapa Musa. Nabi Musa As. memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan maksud kedatangannya. Dia datang untuk menyertainya dan belajar ilmu yang berguna darinya.
Hamba shalih itu berkata mengingkari perjalanan Nabi Musa As. kepada dirinya, "Apa kamu tidak merasa cukup dengan apa yang ada dalam kitab Taurat dan kamu diberi wahyu?" Kemudian hamba shalih itu menyampaikan bahwa ilmu mereka berdua berbeda, walaupun sumber keduanya adalah satu. Hanya saja, masing-masing mempunyai ilmu yang berbeda yang Allah Swt. khususkan untuknya. "Wahai Musa, sesungguhnya aku memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadaku yang tidak kamu ketahui. Kamu juga mempunyai ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang tidak Allah ajarkan kepadaku."
Nabi Musa As. meminta agar diizinkan untuk menyertainya dan mengikutinya. Dia menjawab, "Kamu tidak akan bisa bersabar bersamaku." Nabi Musa As. pun berjanji akan sabar dengan izin dan kehendak Allah Swt. Hamba shalih itu mensyaratkan atas Nabi Musa As. agar tidak bertanya tentang sesuatu sampai dia sendiri yang nanti akan menjelaskan dan menerangkannya.
Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. berjalan di pantai. Keduanya hendak menyeberang ke pantai yang lain, dan mendapatkan perahu kecil yang akan menyeberangkan para penumpang di antara kedua pantai. Orang-orang sudah mengenal hamba shalih itu, maka mereka menyeberangkannya bersama dengan Nabi Musa As. ke pantai seberang secara gratis.
Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir As. melihat seekor burung yang hinggap di pinggir perahu. Burung itu mematok air dari laut sekali, maka hamba shalih berkata kepada Nabi Musa As., "Demi Allah, ilmumu dan ilmuku dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti yang dipatokkan burung itu dengan paruhnya dari air laut."
Ketika keduanya berada di atas perahu, Nabi Musa As. dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang mencopot sebuah papan kayu dari perahu itu dan menancapkan patok padanya. Nabi Musa As. lupa akan janjinya, dengan cepat dia mengingkari.
Pengrusakan di bumi adalah kejahatan, yang lebih jahat jika dilakukan kepada orang yang memiliki jasa kepadanya, "Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar." (QS. Al-Kahfi: 71). Di sini hamba shalih itu mengingatkan Musa akan janjinya, "Bukankah aku telah berkata, 'Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama denganku." (QS. Al-Kahfi: 72). Pertanyaan Nabi Musa As. yang pertama ini dikarenakan dia lupa, sebagaimana hal itu dijelaskan oleh Rasulullah Saw.
Nabi Musa As. dan Nabi Khidhir terus berjalan. Nabi Musa As. dikejutkan oleh Nabi Khidhir yang menangkap anak kecil yang sehat dan lincah. Nabi Khidhir menidurkan dan menyembelihnya, memenggal kepalanya. Di sini Nabi Musa As. tidak sanggup untuk bersabar terhadap apa yang dilihatnya. Dengan tangkas dia mengingkari, sementara dia menyadari janji yang diputuskannya. "Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang munkar." (QS. Al-Kahfi: 74)
Pengingkaran Nabi Musa As. dijawab oleh hamba shalih itu dengan pengingkaran, "Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat bersabar bersamaku?" (QS. Al-Kahfi: 75)
Di sini Nabi Musa berhadapan dengan kenyataan yang sebenarnya, bahwa dia tidak mampu berjalan menyertai laki-laki ini lebih lama lagi. Nabi Musa tidak kuasa melihat perbuatan seperti ini dan diam. Hal ini kembali kepada dua perkara. Pertama, tabiat Nabi Musa. Nabi Musa dengan jiwa kepemimpinan yang dimilikinya sudah terbiasa menimbang segala sesuatu yang dilihatnya. Dia tidak terbiasa diam jika menyaksikan sesuatu yang tidak diridhainya.
Dan kedua, dalam syariat Nabi Musa, pembunuhan seorang anak adalah sesuatu kejahatan. Bagaimana mungkin Nabi Musa tidak mengingkarinya, siapa pun pelakunya. Dalam hal ini Musa mengakui kepada hamba shalih tersebut. Musa memohon kesempatan yang ketiga dan yang terakhir. Jika sesudahnya Nabi Musa bertanya, maka dia berhak untuk meninggalkannya.
Keduanya lantas berjalan, hingga tibalah di sebuah desa yang penduduknya pelit. Nabi Musa dan Nabi Khidhir meminta kepada mereka hak bertamu. Namun mereka berdua hanya mendapatkan penolakan dari mereka. Walaupun demikian, Nabi Khidhir memperbaiki tembok di desa itu yang miring dan hampir roboh. Ini perkara yang aneh. Mereka menolak menerima keduanya sebagai tamu, tapi hamba shalih ini memperbaiki tembok mereka dengan gratis.
Di sini Nabi Musa As. memilih berpisah. Hal ini ditunjukkan oleh pertanyaan Nabi Musa As. kepada hamba shalih tentang alasan dia memperbaiki tembok secara gratis, padahal tembok itu dimiliki oleh kaum yang menolak mereka.
Seandainya Nabi Musa As. bersabar menyertai hamba shalih ini, niscaya kita bisa mengetahui banyak keajaiban dan keunikan yang terjadi padanya. Akan tetapi Nabi Musa As. memilih berpisah setelah hamba shalih ini menerangkan tafsir dari perbuatannya dan rahasia yang terkandung dari perilaku yang dilakukannya. Dan perkara ini tercantum dalam surat Al-Kahfi.
Adapun tiga hikmah yang ada dibalik tiga kejadian yang 'diajarkan' oleh Nabi Khidir kepada Nabi Musa adalah :
Kejadian pertama adalah ketika Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. "Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera." (QS Al-Kahfi: 79)
Kejadian yang kedua adalah ketika Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. "Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya)." (QS Al-Kahfi: 80-81)
Kejadian yang ketiga (terakhir) adalah dimana Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Ini sesuai dengan firman Allah Swt. "Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (QS Al-Kahfi: 82)
Akhirnya Nabi Musa As. sadar hikmah dari setiap perbuatan yang telah dikerjakan Nabi Khidir. Akhirnya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang dapat mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu laduni. Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak memberikan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa as. dan Nabi Musa menerima nasihat tersebut dengan penuh rasa gembira.


Isnin, 22 Ogos 2011

Pengembaraan Dan Pengalaman 
Di Rantau Orang
 Dari penulis
Manusia itu tak pernah diam dalam hidupnya, itulah manusia yang suka hidup sosial dengan kaedah-kaedah yang tersendiri pendek kata tak semua manusia sama tabiat dan akhlak satu sama yang lain. walaupun kejadian dan penciptaan yang sama dan sama keturunan. dalam kehidupan manusia sebenarnya unik dengan kerenah yang dipanggil budaya. Dalam kehidup manusia itu tersimpan satu konsep hiburan dan seni yang dibudayakan dengan ilmu. Lihat sahaja kerenah masyarakat sekeliling kita banyak menyimpan satu ikatan yang berbeza-beza melalui perasaan yang diselami dengan kemahuan, kehendak, keinginan dan pembentukkan. Bila saya melangkah ke hadapan untuk mencari bukti kejadian yang belum berlaku, saya suka memikirkan kerenah manusia dengan hidupannya dan kerjayanya - antaranya dapat membentuk suasana hiburan mengikut selera diri samaada ia kenangan manis dan kenangan pahit bergantung kepada seseorang menilai corak pengembaraan dan pengalaman hidupnya. Dengan ini, manusia itu mempunyai sejarah masing-masing - antara terkenal dengan dirinya yang banyak menerokai nilai hidup dan sebaliknya.

Untuk mencorak nilai hidup bukanlah mudah tanpa kesusahan - antara kegelisahan, kerisauan, ketakutan, keasingan, dipinggirkan dan dilupakan oleh masyarakat sekelilingnya. Biasanya manusia yang kuat azamnya adalah manusia yang suka mencipta dirinya dalam pencarian ilmu dan manusia yang suka mengembara. Saya melihat kebanyakan manusia yang ada dipersekitaranku. khasnya Daerah Semporna iaitu anak-anak muda suka mengembara namun mereka tidak mencatat pengembaraan itu malah anggap pengalaman dirantau orang adalah melepaskan diri tekanan hidup, jika saya fikirkan anak-anak mudah Daerah Semporna berjiwa besar ingin menjadi terhebat dalam pegangan hidup mereka. Teramat sayang kedudukan itu hanya berlalu ditepi jalan tanpa tujuan yang secara rasmi dan tidak rasmi maknannya disini - anak-anak muda Daerah Semporna masih memerlukan dorongan untuk menghargai diri dalam pengalaman hidup mereka di rantau orang mesti ada bukti boleh dibelajari dari mereka dalam catatan mereka dijadikan sebagai pedoman hidup dan ada sebahagian kecilnya hanya mampu membentuk diri dalam kelompok diri tanpa sebarang disedari. 

Inilah terbukti bila saya sendiri melakukan jalan yang sebenarnya untuk mencari nilai diri. Dalam keadaan seorang perantau sering mencatat hidup kadang-kadang teringat dan terlupa mencatat namun saya mampu mengungkap semua apa yang berlaku dalam arus perjalanan hidupku. Setelah saya, meninggalkan Semporna bertahun-tahun lamanya terasa asing bila saya berada ditanah orang - sentiasa mencatat dan seorang photo sering merakam halaman baru dan halaman lama, 'Amat seronok' melihat aktiviti manusia dan alam. 

Ciptaan Allah yang dianggap penghurai segala kehidupan dalam pelbagai segi dalam prinsip hidup untuk membentuk manusia. Disinilah saya melihat bagaimana membentuk diri dalam pembentuk yang bermula dengan kedalam diri dulu. Tak semua manusia berjaya mengenali dirinya hinggakan ia melepaskan dirinya dengan berseronok dengan kemajuan diri dengan kejayaan yang melengkap dirinya yang digunakan sebagai senjata, tetapi senjatan itu adalah kemewahan dunia hinggakan meninggirkan hukum aturcara Allah swt mereka anggap menyusahkan ataupun terikat, mereka berani berkata 'kita bebas' Allah swt tidak dapat buat apa-apa untuk kita. akhirnya manusia hidup dalam kekosongan dan tanpa pedoman mereka berlakon sebagai penjaga siang dan penjaga malam tetapi mereka gagal menguasai diri secara totalnya. Akhirnya sukar memikirkan apa harus saya buat.....kematian itu sentiasa menjemput manusia...untuk pulang ke sana.

Manusia yang tinggi akalnya adalah manusia suka mengembara dan memikirkan apa yang memberi kebenaran dalam pengembaraannya. Sepertimana saya lakukan sebelum mengembara saya sentiasa membaca al-Quran dan al-Hadis, supaya pengembaraanku itu seiring dengan maksud yang ada didalam al-Quran dan al-hadis dan supaya nafsu keinginanku itu sentiasa terkawal bukan mengikut kehendak ketentuan diriku. inilah zaman pengembaraanku yang amat penting untuk merakam yang sebenar-benar berlakunya - antara langit dan bumi.
manusia itu amat penting disisi Allah swt kerana itu manusia adalah makhluk ciptaan yang terbaiknya boleh menghubungkan tiga hubungan iaitu hubungan dengan Allah swt, hubungan manusia dan hubungan alam. 

Manusia harus mengerti tentang 'diri dan hidup' harus digerakan jangan dilemahkan seperti malas berfikir, terenung tiada berkesudahan, suka mengkungkung diri, prasangka buruk. Manusia harus dijalankan hidupnya dengan aturcara yang dengan membuka pemikiran yang cintakan keindahan, suka memandang hidupan alam secara bersungguh-sungguh antara langit dan bumi dan mendekati masyarakat yang amat memerlukan(orang-orang miskin). inilah perjalanan manusia ibarat pantai dan ombak sering mengulang-ulangi gerakan kicakan hinggakan ia mengeluarkan satu suara cukup panjang dalam penciptaan Allah swt. 

Keluarlah dari rumahmu kerana mencari ilmu kerana Allah swt :
Menuntut ilmu adalah satu keharusan bagi kita kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, para penuntut ilmu dan yang mengajarkannya.
Sebenarnya banyak ayat Al-Quran dan As-Sunnah yang memerintahkan kita agar menuntut ilmu dan kelebihan-kelebihan menuntut ilmu itu.

Maksud firman Allah s.w.t:
“Maka tanya oleh mu akan orang yang ahli zikri (orang yang alim) jikalau kamu tidak mengetahui”.
 
Maksud sabda Rasulullah s.w.w pula yang bermaksud :
“Sesungguhnya sesuatu bab daripada ilmu yang dipelajari oleh seorang lelaki terlebih baik baginya daripada dunia dan apa yang ada di dalamnya”

Di samping itu terdapat juga hadis-hadis yang menceritakan tentang fadhilat-fadhilat menuntut ilmu itu yang menjadi lebih baik daripada ibadah kita (ibadah sunat) sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w ertinya :
“Demi Tuhan bahawa jika kamu pergi menuntut ilmu daripada sesuatu bab terlebih baik daripada kamu sembahyang seratus rakaat,”
Di samping itu, banyak hadis yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w tentang kematian bagi orang-orang yang sedang menuntut ilmu antaranya:
“Barangsiapa yang mati di dalam keadaan menuntut ilmu untuk menghidupkan agama Islam, maka dia berada di dalam Syurga kelak satu darjat dengan para nabi.”

Rasulullah s.a.w juga telah menggariskan beberapa peringkat kelebihan ilmu dengan sabda Baginda s.a.w,
“Sesungguhnya ilmu itu adalah umpama gedung dan anak kuncinya adalah pertanyaan.”
Empat jenis golongan yang diberikan pahala di dalam menuntut ilmu ini, iaitu :
    1. Golongan yang sukar bertanya akan sesuatu ilmu
    2. Golongan pengajar atau orang yang mengetahui sesuatu ilmu dan mengajar kepada orang lain
    3. Golongan yang yang mendengar orang yang mengajar ilmu
    4. Golongan orang yang suka dan kasih akan majlis ilmu.
Jika kita teliti kepada kepentingan ilmu seperti yang telah dijelaskan di atas, maka seharusnya bagi kita sebagai “Ummah Terbaik” mengambil kesempatan yang berharga di dalam kehidupan ini untuk merancakkan lagi pemburuan ilmu itu. Maka menuntut ilmu itu tidak mengira usia sama ada seseorang itu muda atau tua, lelaki atau perempuan semua digalakkan menuntut ilmu.

Sikap yang positif dan keyakinan diri adalah faktor yang penting untuk mencapai sesuatu tujuan. Faktor ini tidak terpisah bagi sesiapa yang ingin memahami agama yang dicintai ini. Bahkan ketahuilah bahawa sesiapa yang berusaha dengan ikhlas untuk tujuan ini, maka Allah akan membimbingnya, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud:

“Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami; dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya.”
[al-Ankabut, ayat 69]

“Pimpinan” Allah boleh wujud dalam pelbagai bentuk, seperti dipertemukan dengan guru yang benar, ditunjuki kepada buku daripada penulis yang jujur, dipersahabatkan dengan orang-orang yang shalih, dibimbing kepada subjek-subjek yang mengikut tertib kepentingannya dan ditanam dalam dirinya akhlak yang mulia apabila berinteraksi dengan ilmu agama. Oleh itu janganlah merasa ragu-ragu atau rendah diri untuk berusaha memahami agama Islam. Yakinilah bahawa Allah akan memimpinnya selagi mana dia ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Siapa kita berhubung, siapa kita berkawan, memiliki pengaruh yang besar kepada perwatakan diri kita sendiri. Rasulullah pernah mengingatkan, maksudnya:

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dan teman yang buruk hanyalah seumpama pembawa minyak wangi dan peniup tungku api seorang tukang besi. Bagi pembawa minyak wangi, boleh jadi sama ada dia memberinya kepada kamu (minyak wangi) atau kamu membeli daripadanya (minyak wangi) atau kamu mendapat bau harum daripadanya. Bagi peniup tungku api seorang tukang besi, boleh jadi sama ada ia akan membakar pakaian kamu (kerana kesan tiupan api) atau kamu mendapat bau yang tidak sedap daripadanya (bau besi).”
 [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya, hadis no: 2628].

Oleh itu sesiapa yang berusaha untuk memahami agama Islam hendaklah sentiasa berhubung dengan orang-orang yang perhubungannya sentiasa bersama ilmu. Mereka adalah orang-orang yang perhatiannya sentiasa kepada al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih, usahanya sentiasa kepada mengkaji kitab-kitab peninggalan para ulama’ dan pemikirannya sentiasa ke arah memperbaiki keadaan umat Islam dan menjaga kemurnian agama Islam.
Di antara mereka ialah para alim ulama’ dan guru-guru, maka hendaklah memuliakan mereka, mendengar nasihat mereka dan mengikuti jejak langkah mereka. Seandainya mereka berbuat salah, hendaklah menasihati mereka secara sopan dan tersembunyi, tidak secara kasar dan terbuka kepada orang ramai. Di antara mereka adalah orang-orang yang dalam proses memahami agama Islam, maka hendaklah menjadikan mereka sebagai sahabat karib, selalu meluangkan masa berkongsi ilmu, bertukar-tukar pendapat dan saling menasihati.
 

Khamis, 30 Jun 2011

Siapa Tak Kenal Socrates Adalah Pemain Brazil, Seorang Doktor Ada (PhD), Seorang Penulis, Seorang Penyair, Seorang Ahli Fafsafah, Seorang Ahli Politik, Seorang Ahli Ekonomi 
Dan Seorang Genius Dalam Era Bola Sepak 


SOCRATES, nama tersohor yang diingati atas dua personaliti terkemuka dunia. Socrates (469-399 SM) ialah ahli falsafah Yunani kuno yang disifatkan sebagai salah seorang pengasas falsafah barat.
Manakala seorang lagi tuan punya nama 'Socrates' (dilahirkan 1954), pula merupakan legenda bola sepak Brazil yang dikenali kerana kehebatannya dalam dua edisi Piala Dunia, 1982 (Sepanyol) dan 1986 (Mexico).
Sejauh mana Socrates kuno menyumbangkan kepada sejarah falsafah dunia, maka sebanyak itulah juga legasi yang ditinggalkan Socrates moden dalam arena bola sepak antarabangsa.
Dianggap antara panglima jentera tengah terulung dalam sejarah bola sepak, Socrates, memulakan karier di Botafogo pada 1974.
Socrates memiliki kemahiran menakjubkan seperti bijak membaca dan mengatur permainan seolah-olah mempunyai banyak pilihan selagi bola ada pada kakinya.
Dia mampu menghantar bola kepada sesiapa yang mahu ditujukan. Skil sepakan tumit yang sering dipamerkan ketika beraksi, turut menjadi terkenal dan ikutan di seluruh dunia.
Namun, tidak seperti Pele, Ronaldo, Kaka mahupun Neymar, dia masih belum berstatus bintang sensasi sewaktu zaman remajanya, malahan tidak menyarung jersi skuad kebangsaan Brazil sehinggalah usianya menjangkau 25 tahun.
Kelewatan prestasinya memuncak disebabkan dia sebelum itu menumpukan pengajiannya dalam bidang perubatan dan dia sebenarnya merupakan seorang doktor bertauliah, satu pencapaian yang jarang dilakukan di kalangan bintang bola sepak, sekali gus mendapat gelaran 'The Doctor'.
Socrates ialah kapten pasukan legenda Piala Dunia 1982 yang menyaksikan barisan tengah yang dikemudinya bersama Cerezo, Falcao dan Zico pada ketika itu amat digeruni lawan.
Pada temasya tersebut, dia menjaringkan dua gol, satu daripadanya merupakan gol cantik sewaktu menentang Soviet Union.
Dia menggelecek melepasi dua pemain lawan sebelum merembat kencang menewaskan penjaga gol.
Meskipun terkandas pada pusingan kedua selepas ditewaskan 2-3 dalam perlawanan epik kepada Itali, pasukan Brazil itu diingati dan masih menjadi sebutan sehingga hari ini kerana persembahan bermutu tinggi lagi menghiburkan.
Empat tahun kemudian di Mexico, Socrates sekali lagi cemerlang, namun tidak cukup untuk membantu Brazil menjulang Piala Dunia yang diidam-idamkan. Mereka tewas pula kepada Perancis yang diketuai Michel Platini menerusi penentuan sepakan penalti.
Socrates mungkin menjadi punca kekalahan pasukannya kerana gagal menyempurnakan salah satu sepakan itu, namun, dialah satu-satunya pemain dari skuad Piala Dunia terdahulu yang mengekalkan prestasi pada tahap yang sama seperti empat tahun lalu.
Di peringkat kelab, dia menghabiskan empat tahun di Botafogo sebelum menyertai pasukan kedua popular Brazil, Corinthians dan menetap di pasukan tersebut selama enam musim sehingga 1984, menyaksikan dia berada pada kemuncak prestasi dengan meledak 172 gol daripada 297 penampilan.
Socrates kemudiannya memilih aksi di luar Brazil apabila berhijrah ke kelab Serie A Itali, Fiorentina, namun hanya bertahan semusim.
Dia mengalami kesukaran menyesuaikan diri dengan kehidupan baru di Eropah dan sebab itu, mengambil keputusan kembali ke Brazil. Sekembali ke tanah air, dia menyarung pula jersi Flamengo sebelum mengakhiri kerjaya selama 15 tahun di Santos.
Di tanah air, Socrates mempunyai identiti berbeza. Selain dihormati kerana kehebatannya dalam bola sepak, dia juga dipuja kerana kepimpinannya dalam politik, terutamanya kesungguhan menentang pemerintahan diktator.
Sebagai pemimpin Democracia Corintiano (Demokrasi Corinthians), Socrates mengetuai gerakan memperjuangkan demokrasi dalam bola sepak.
Pada 1982, dia bersama rakan-rakan sepasukannya, dibantu pemain pertahanan Wladimir serta keizinan daripada presiden kelab, Waldemar Pires, mengambil alih keseluruhan pengurusan pasukan.
Mereka berbuat demikian kerana tidak berpuas hati dikenakan pelbagai larangan oleh pengurusan terdahulu dan selepas kejayaan memihak Socrates dan rakan-rakan, seluruh skuad Corinthians mendapat hak mengundi menentukan sesuatu isu pasukan.
Perjuangan itu kemudiannya dilanjutkan kepada penentangan politik kerajaan Brazil yang ketika itu diperintah diktator ketenteraan. Dia merupakan antara rakyat biasa yang berani bersuara mencabar barisan kepemimpin junta.
Socrates pernah mendedahkan, tiga idolanya semasa zaman kanak-kanak ialah Fidel Castro, Che Guevara dan John Lennon.
Di sebalik kemasyhurannya, Socrates bagaimanapun bukan seorang ahli sukan yang wajar dicontohi jika dinilai dari aspek gaya hidup. Sehingga hari ini, dia mengakui masih ketagih arak dan kuat merokok.
"Saya menghisap 20 batang rokok setiap hari dan masih kerap meneguk arak," katanya dalam temu bual bersama sebuah akhbar United Kingdom.
Socrates kini menetap di Ribeirao Preto bersama isteri dan enam anaknya. Dia aktif menulis dalam beberapa akhbar dan majalah, selain menjadi pengulas sukan.

Selasa, 28 Jun 2011

Satu Pengembaraan
Satu Catatan:
Dari seorang anak kampung mengembang diri di kampung ayer ke Sekolah Pekan Semporna ke Sekolah Menengah Abdullah ke kehidupan penganggur ke seorang petani ke seorang pemain sukan ke seorang suka mencatat pergi balik ke perpustakaan ke seorang pelajar kolej di Tawau dan menjadi pengembaraan ke seorang guru yang mengajar di Sekolah Pekan Lahad Datu I dan di Sekolah Menengah Bum-Bum ke seorang penyelidik ke seorang penulis ke dunia mencari ilmu falsafah ke 13 negeri di Malaysia menjadi pengembaraan menjadi 'Harapan dan cita-citaku.'
Dari lepa-lepa kunaiki ke daratan tanah besar pekan Semporna ke perjalanan dari Semporna ke simpang antara tiga iaitu Tawau, Sandakan dan Kota Kinabalu ke Gunung Kinabalu - Gunung tertinggi di Asia Terenggara ke Lautan China Selatan bersama hati dalam keseorangan diri ke negeri asing melihat riak wajah orang baru dan negeri baru ke hati yang gelisah dan takut terasing di bumi orang hanya satu ujian bagiku untuk meletakkan diri berada disisi Maha Penciptaan. 
      
Dari Airport Kota Kinabalu ke ruang langit terang bagaikan Burung Helang dilangit biru melintas ruang udara, dan awan, sambil melihat ciptaan Tuhan yang mekar di langit dengan ketinggian dari langit ke aras bumi iaitu 3000 km dari bumi ke pesawat yang saya naiki, berada didalam pesawat selama 4 jam terasa jauh diri meninggalkan tanah air demi meneruskan hasratku untuk mengembang diri melihat kelebihan diri di negeri orang sedangkan saya selalu terlihat kelemahan diri di tanah air bagaikan saya selalu terpinggirdi tanah sendiri. perginya saya dari kampung kelahiranku bukan susuk pilu iaitu kecewa kerana tiada tempat untuk mengembang diri akhirnya saya di Airport KLIA. Terasa hatiku sukar menguasai diri kerana terpisah jauh. Di Kuala Lumpur ke Selangor Putrajaya ke Johor ke Melaka ke Negeri Sembilan ke Perak ke Pahang ke Terengganu ke Kelantan ke Kedah dan ke Pulau Pinang.

Saya menulis: 'ketika ini, saya amat teruja dengan corak perjalanan hidupku, begitu jauh saya berada dirantau orang, kini hidupku mula kutemui, bila satu cerita akan pasti saya akan warkahkan kepada teman-temanku'




Khamis, 26 Mei 2011

Rahsia disebalik
Nama-nama Agung 
Dari Penulis
Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj
Sebagai rakyat Malaysia, kita amat bersyukur dianggap Malaysia kerana mempunyai nama-nama perdana yang terikat singkatnya nama mereka dalam perkataan 'Rahman' nama ini adalah bapa Kemerdekaan Malaysia iaitu Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj dalam perkataan nama 'Rahman' dalam al-Quran 'Rahman' iaitu Maha Pemurah: salah satu daripada nama Allah SWT yang memberi pengertian bahawa Allah SWT melimpahkan karunianya kepada makhluknya.

Ramai tidak mengetahui ataupun sudah tahu perihal nama tersebut iaitu Nabi Adam AS. Nabi Adam AS merupakan manusia yang pertama manusia yang dinamakan oleh Allah SWT sebagai menjadi khalifah di atas muka bumi ini. Segala kehidupan dunia dan segala kehidupan menerokai apa yang ada didalam muka bumi ini adalah kehidupan yang dianggap persinggahan dan rumah tumpang kepada manusia berilmu tetapi ia istimewa kepada manusia yang menganggap bumi adalah tempat kekal abadi. Namun, ramai tidak  memikirkan nama Nabi Adam AS sebenarnya banyak kaitannya dalam kehidupan manusia:
1. Manusia pertama merasai segala kehidupan yang mana lahir daripada syurga.
2. Manusia yang pertama mendapat perkara yang baik dan perkara yang tidak baik. 
3. Manusia pertama menerima hukum-hukum kehidupan yang telah disampaikan dari Allah SWT
4. Manusia diberi ilmu yang pertama di atas muka bumi.
5. Manusia pertama yang menerokai bumi.
6. Manusia mengenali ilmu dan kegunaan-Nya.

Pada umumnya istilah nama 'Adam' adalah huruf  pertama dalam mengenali ilmu iaitu huruf 'A' yang mana huruf ini dianggap istimewa disisi Allah SWT sendiri. Dari huruf A to Z adalah antara huruf digunakan dalam penggunaan nama pertama ciptaan Allah SWT adalah huruf 'A' dari huruf ini, Allah SWT memberikan kehidupan pertama  diatas alam ini. jika kita fikirkan perkataan 'Adam' itu adalah himpunan nama-nama rasul dan nabi. 

Peristilahan nama 'Adam' iaitu manusia pertama dan manusia yang terakhir iaitu Nabi Agung iaitu Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah hukum dan penciptaan ke atas sejarah manusia sudah pun dicatatkan oleh Allah SWT sebelum Nabi Adam AS, nama Nabi Muhammad SAW yang terletak dipengunjung nama Nabi Allah Adam adalah hakikat kepada hubungan Maha Pencipta dengan hubungan alam dan hubungan manusia serta alam sekeliling dalam semestar alam. dengan itu, kehidupan manusia sentiasa berkait dengan hukum-hukum Allah, hukum-hukum perwatakan alam dan hukum-hukum perwatakan manusia inilah manusia itu sebahagaian pada alam dan alam itu sebahagian pada manusia. Dan kehidupan manusia dan alam itu adalah disatukan melalui ilmu. Dalam ilmu itu ia akan membentuk manusia ke arah yang berbeza-beza kedudukan darisegi kemahuan, kehendak, keinginan dan penghayatan tentang diri manusia itu sendiri.

Rabu, 25 Mei 2011

Jangan Bersedih, Kerana Dunia Ini Tidak Mungkin Sepi Oleh Permusuhan
Dari Penulis
Shakespeare mengatakan:
'Jangan menyalahkan perapian terlalu panas kepada musuhmu, agar tidak membakar diriumu sendiri.'

Katakan kepada mata yang sering merasa penih,
bahawa mentari memiliki mata yang banyak,
yang dapat kau lihat saat ia terbit dan tenggelam,
dan kesihilah mata,
yang telah Allah redupkan sinarnya,
hingga tidak mampu menatap sinar mentari,

Ada orang pernah berkata kepada Salim Bin Abdullah Bin Umar, seorang alim yang berasal dari kalangan tabi'in: "Anda adalah seorang yang berperilaku buruk!" Salim pun menjawab: "Memang. hanya engkaulah yang tahu tentang aku!"

Seorang sasterawan Amerika mengatakan: "Mungkin saja tongkat dan batu itu akan mampu meremukan tulang-tulangku, namun kata-kata tidak akan mampu melukaiku."

Seseorang pernah berkata kepada Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu: "Demi Allah, akan aku cerca anda dengan cercaan yang akan anda bawa sampai ke dalamkuburmu!" Abu Bakar Radhiyallahu'anhu menjawab balik: "Tidak, tetapi cercaanmu akan masuk bersamamu ke dalam kuburmu!"

Ada Seseorang berkata kepada Amru Bin Ash Radhiyallahu'anhu: "Aku akan berusaha memerangimu." Amru Radhiyallah'anhu menjawab: "Mulai sekarang engkau telah menjatuhkan dirimu dalam kesibukan yang sebenarnya."

Jenderal Elsenhower pernah menyataka: "Jangan biarkan diri kita menyia-nyiakan fikiran kita untuk orang-orang yang tidak kita cintai meski hanya sedetik!'

Seekor nyamuk berkata kepada pohon kurma: "Hati-hatilah kerana sesungguhnya saya akan terbang dan akan meninggalkanmu!"
Maka berkatalah phon kurma: 'Demi allah, saya tidak merasakan sesuatu saat anda hinggap padaku, lalu bagaimana aku akan merasakan sesuatu tatkala anda terbang!"

Confusius mengatakan:
"Orang yang marah akan selalu memenuhi dirinya dengan racun." 

Sesungguhnya syaitan itu mengalahkan hamba dalam tiga hal:
1. Ketika Marah
2. Ketika syahwatnya naik
3. ketika lalai